Lokasi SDN Tambora di Desa Oi Bura, Kabupaten Bima, NTB yang terpencil di tengah perkebunan kopi, tak menyurutkan tekad Sugeng Purnomo untuk mengajar murid muridnya. Jarak dari rumah Sugeng ke sekolah berjarak sekitar 12 Km. Dirinya harus menembus kawasan hutan untuk memberikan pembelajaran ke murid muridnya.

Sugeng yang mengajar di kelas tiga, mengungkapkan sekolah telah diperbolehkan menggelar pembelajaran tatap muka. Dirinya mengaku cukup antusias memberikan pembelajaran secara langsung. Pasalnya, Sugeng mengatakan pembelajaran secara daring yang dilakukan akibat pandemi Covid 19 tidak bisa dilaksanakan di sekolahnya karena tidak ada jaringan.

"Kegiatan belajar mengajar tatap muka sudah masuk dua minggu. Sebelumnya sistemnya kan enggak bisa sistem daring di sini. Kalau di sekolah tidak ada jaringan," tutur Sugeng. Demi menghadirkan pembelajaran terhadap siswa, para guru di SDN Tambora sempat memberikan pembelajaran secara langsung ke rumah siswa.

Para siswa dibagi kelompok yang terdiri dari lima hingga 10 orang. Meski begitu, Sugeng mengatakan antusiasme para siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan model ini. Banyak siswa yang malah membantu orang tuanya berkebun di ladang.

Bahkan ketidakhadiran siswa, kata Sugeng, semakin meninggi ketika sedang musim panen datang. "Ini kan di tengah perkebunan kopi, terus hari ini lagi pada panen. Cenderung siswa ikut panen kaya gitu. Ke kebun, ladang. Kan lagi musim panen jagung. Kehadiran siswa untuk mengikuti kelompok belajar tersebut yang kurang," ungkap Sugeng. Situasi seperti ini, menurut Sugeng, tidak hanya terjadi di masa pandemi.

Sebelum pandemi terjadi, kehadiran siswa di kelas memang cenderung menurun ketika masuk musim panen. Jumlah siswa yang tetap mengikuti pembelajaran hanya bertahan sebanyak 25 persen. Padahal jumlah siswa di SDN Tambora hanya sebanyak 73 orang yang terbagi dalam enam kelas.

Ketika musim panen, Sugeng mengatakan siswa yang tidak hadir di kelas bisa mencapai belasan orang. Situasi pandemi Covid 19 memperburuk keadaan ini. "Bahkan ada kemarin satu keluarga, dia tiga orang anaknya dan satu ponakan. Dia empat orang, malah satu minggu pertama gak masuk full ternyata ada di Sumbawa. 200 300 Km lebih dari sini. Ternyata ikut orang tuanya yang cari kerja," tutur Sugeng.

Padahal, menurut Sugeng, antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran sangat besar. Sugeng menceritakan bahwa jarak rumah para siswa dengan sekolah sebenarnya sangat jauh, yakni yang terdekat 400 meter, sementara yang terjauh bisa mencapai 2 Km. Para siswa tersebut bahkan harus berjalan kaki untuk mencapai sekolah yang berada di tengah perkebunan kopi tersebut.

Namun antusiasme tersebut, kata Sugeng, sempat terkikis akibat terlalu lama PJJ. "Sebenarnya pas kemarin bisa PTM, memang antusias anak didik ada. Tapi ada yang terlanjur kebawa suasana saat pandemi kemarin. Ada yang bantu orang tua atau tinggal di ladang," kata Sugeng. Para guru akhirnya menyambangi rumah siswa satu persatu jika ada siswa yang belum juga hadir ke sekolah.

Sugeng mengatakan para guru mencoba memberi pengertian kepada siswa maupun orang tua bahwa pembelajaran telah dapat dilaksanakan di sekolah kembali. Jarak sekolah ke ladang atau rumah siswa sebenarnya sangat jauh. Namun kendala komunikasi membuat para guru harus menyambangi muridnya demi pembelajaran.

Pengorbanan yang diberikan Sugeng dan rekan rekan guru di SDN Tambora sangat besar. Padahal selama sebulan, Sugeng hanya mendapatkan pendapatan sekitar Rp300 ribu. Pendapatan Sugeng berasal dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Dalam setahun dana BOS cair sebanyak tiga kali, per termin dirinya hanya mendapatkan sebesar Rp1 juta hingga Rp1,2 juta. Saat ini Sugeng masih berstatus guru honorer bersama delapan orang guru lainnya. Dirinya mengajar sekitar 13 tahun di SDN Tambora sejak 2008.

Di SDN Tambora, Sugeng mengungkapkan hanya kepala sekolah yang telah berstatus PNS. Hanya ada satu guru CPNS di sekolah tersebut. Meski dengan gaji yang minim, Sugeng mengatakan upayanya memberikan pembelajaran adalah bentuk pengabdian terhadap daerahnya. Sugeng mengatakan dirinya lahir dan tumbuh besar di dekat SDN Tambora.

Sehingga dirinya terpanggil untuk melakukan pengabdian terhadap sekolah tersebut. Selain itu, Sugeng mengungkapkan SDN Tambora sempat minim guru. Banyak guru yang tidak betah ditempatkan di SDN Tambora karena wilayahnya yang terpencil.

Terlebih guru yang mengajar bukan berasal dari daerah sekitar. "Saya merasa terpanggil, karena saya perhatikan beberapa tahun sebelum saya mengabdi dulu. Banyak saya melihat daftar nama guru, tapi tidak ada gurunya. Karena memang guru yang didatangkan orang dari luar wilayah kami. Jadi tidak cukup betah lah ditempatkan di tempat hutan," jelas Sugeng. Meski begitu, Sugeng berharap pemerintah dapat memberikan bantuan untuk meningkatkan kesejahteraan para guru honorer yang berada di pelosok.

"Kami juga butuh makan jadi mungkin pemerintah dapat memperhatikan kami di daerah terpencil," ucap Sugeng. Menurut Sugeng, pendapatan para guru honorer yang minim membuat mereka harus mencari pendapatan lain di luar sekolah. Sehingga pembelajaran yang diberikan kurang optimal. "Bagaimana anak anak kami bisa menerima pembelajaran secara maksimal. Namun di sisi lain, guru yang mengajar di situ adalah guru honorer," kata Sugeng.

"Jadi ketika status masih honorer, maka tidak mungkin kami hadir di sekolah itu satu minggu full. Karena kan mau tidak mau kami yang mengabdikan di SDN Tambora harus cari makan untuk mengimbangi," tambah Sugeng. Demi memperbaiki kesejahteraannya, Sugeng mengikuti seleksi guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Dirinya berharap program pemerintah ini dapat membantu para guru honorer.

Namun dirinya masih mengalami kendala harus mendaftarkan diri di wilayah lain yang jaraknya sangat jauh. Artikel ini merupakan bagian dari KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.