Serangan Udara Israel Itu Menewaskan Pria Lumpuh, Istri, dan Putrinya

Srael dan Hamas menyatakan gencatan senjata Jumat (21/5). Namun serangan udara Israel ke Gaza selama 11 hari terakhir dianggap serangan terburuk selama konflik di Jalur Gaza. Mayoritas warga di Gaza, petugas medis, pers, dan otoritas di sana menilai serangan udara Israel dilakukan tanpa pandang bulu. Ratusan warga sipil menjadi korban, bahlan termasuk pria lumpuh beserta keluarganya. Pihak berwenang menyebutkan, serangan Israel Rabu (19/5) menewaskan Eyad Salha (33), penyandang cacat yang hanya duduk di kursi roda, Amani (33) istrinya yang sedang hamil, dan putri mereka yang berusia tiga tahun.

Adik Eyad menuturkan, keluarga abangnya sedang bersiap makan siang, Rabu lalu. Tetiba sebuah rudal menghancurkan fasad Gedung tepi pantai dan menghancurkan tiga kamar di flat Deir el Balah, di tengah Jalur Gaza. Eyad dan keluarganya tinggal di flat itu. Ruang tamu keluarga hancur berkeping keping, dan sisa sisa sepeda anak bewarna merah tergeletak di tengah reruntuhan. Di dalam lemari es mereka yang roboh, debu abu abu menutupi semangkuk tomat merah segar. Kematian Eyad dan keluarganya menimbulakan kesedihan mendalam bagi Omar Salha (31), adik Eyad. Ia tak dapat memahami bagaimana kakaknya yang lumpuh 14 tahun terakhir itu bisa jadi korban, padahal ia bukanlah pejuang Palestina yang menjadi incaran Israel.

Read More

“Apa yang dilakukan kakakku? Dia hanya duduk di kursi rodanya,” katanya kepada kantor berita AFP. “Apa yang pernah dilakukan putrinya? Apa yang dilakukan istrinya?” tanya sang adik, yang sedang bersama tetangga saat serangan itu melanda. “Mereka baru saja bersiap siap untuk makan siang,” katanya. Data Kementerian Kesehatan di Gaza menunjukkan serangan udara Israel telah menewaskan 227 orang, termasuk 64 anak anak, di daerah kantong pantai yang terkepung sejak 10 Mei.

Roket yang ditembakkan oleh kelompok bersenjata Palestina telah menewaskan 12 orang, termasuk dua anak, di Israel pada periode yang sama, kata polisi Israel. Omar Salha mengatakan saudara laki lakinya menganggur dan berbagi flat dengan ibu dan tiga saudara laki lakinya. Seperti banyak orang lain di daerah kantong pesisir yang miskin, mereka mengandalkan bantuan dari badan PBB untuk pengungsi Palestina.

Umm Eyad juga tidak ada di rumah ketika penggerebekan itu menewaskan putranya. Dia telah pergi dua hari sebelumnya untuk tinggal bersama saudara laki lakinya, karena mengira rumahnya akan lebih aman selama pemboman yang sedang berlangsung di Israel. "Dia akan berdoa agar situasi menjadi tenang," kata pria berusia 58 tahun itu tentang almarhum putranya. "Dia meninggal saat menunggu bayi yang baru lahir."

Kementerian kKsehatan Gaza melaporkan Rabu lalu btentang pembunuhan seorang "pria cacat, putrinya dan istrinya yang sedang hamil". Wakil Menteri Kesehatan Yousef Abu al Rish menyatakan kemarahannya dengan mengatakan membunuh orang tak bersalah di rumah mereka "adalah kejahatan". “Berapa banyak lagi yang harus mati agar dunia dapat menumbuhkan hati nurani?” katanya kepada AFP.

Tentara Israel tidak memberikan komentar khusus tentang serangan Rabu itu. Mereka hanya mengatakan, berusaha untuk menghindari "kerusakan tambahan" dari serangan yang ditujukan pada sasaran militer.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.